Tampilkan postingan dengan label Dhammapada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dhammapada. Tampilkan semua postingan
-
-
0
komentar
[ Read More ]
SABDA-SABDA BUDDHA GOTAMA
DHAMMAPADA
SYAIR-SYAIR KEMBAR (Bagian pertama Dhammapada)
(1).
Seperti perbuatan (buruk) didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran, dan dihasilkan oleh pikiran. Bila seseorang bicara atau berbuat dengan pikiran tidak suci, penderitaan pun akan mengikuti, seperti roda pedati mengikuti jejak lembu yang menariknya.
(2).
Segala perbuatan (baik) didahului oleh pikiran, dipimpin oleh pikiran dan dihasilkan oleh pikiran. Bila seseorang bicara atau berbuat dengan pikiran suci, kebahagiaan pun akan mengikuti, seperti bayang-bayang tak pernah meninggalkan dirinya.
(3).
"Ia menghinaku, ia memukulku, ia mengalahkanku, ia merampas milikku," kebencian dalam diri mereka yang diracuni pikiran-pikiran seperti itu, tak akan pernah berakhir.
(4).
"Ia menghinaku, ia memukulku, ia mengalahkanku, ia merampas milikku," kebencian dalam diri mereka yang telah bebas dari pikiran-pikiran seperti itu, akan segera berakhir.
(5).
Di dunia ini, kebencian tak dapat dipadamkan melalui kebencian, kebencian hanya dapat dipadamkan melalui cinta kasih. Inilah hukum yang berlaku sepanjang masa*
*) Hukum abadi yang telah dipahami dan dijalankan buddha.
(6).
Banyak orang tidak sadar bahwa permusuhan berujung kebinasaan, mereka yang telah sadar akan segera mengakhiri permusuhan.
(7).
Orang yang hidupnya selalu mencari kesenangan*, indra-indranya yang tak terkendali, makan berlebih-lebihan, malas, dan lemah hati, orang itu seperti terjerat oleh mara**, bagaikan angin menumbangkan pohon yang lapuk.
*) Menyukai sentuhan sensual yang memberi kenikmatan.
**) disini 'mara' berarti nafsu.
(8).
Mara* tak berdaya menjerat orang yang pikirannya tidak terikat oleh kesenangan-kesenangan, indra-indranya terkendali, makannya sederhana, penuh keyakinan** dan tekun merenungkan "ketidakmurnian" ***, seperti angin tidak mampu menggoyahkan sebuah gunung.
*). Disini 'mara' artinya nafsu.
**). Keyakinan pada Buddha (Guru), Dhamma (Ajaran), dan Sangha (Persamuhan), yang berlandaskan pengertian,. Tidak ada kepercayaan membuta dalam Buddhisme, seseorang tidak dianjurkan untuk menerima sesuatu hana berdasarkan kepercayaan semata.
***) Perenungan ini antara lain mengambil obyek 'ketigapuluh-dua bagian tubuh'.
(9).
Orang yang belum terbebas dari noda, yang tak mampu mengendalikan diri, dan tak mengerti kebenaran, tidak layak mengenakan jubah kuning.
(10).
Sesungguhnya ia yang telah membuang segala noda, berkelakuan baik, memiliki pengendalian diri dan ketulusan, dialah orang yang layak mengenakan jubah kuning.
(11).
Mereka yang menganggap ketidakbeneran sebagai kebenaran, dan menganggap kebenaran* sebagai ketidakbeneran, mereka yang terus terombang-ambing dalam pikiran keliru** seperti ini, mereka tak akan pernah dapat melihat intisari sesungguhnya.
*). Kebenaran, seperti pandangan benar (samma ditthi), moralitas (sila), konsentrasi (samadhi), kebijaksanaan (panna) dsb. Manfaat suatu kehidupan suci tidak dapat dicapai dengan melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan.
**). Pikiran keliru, yaitu nafsu (kama), itikad jahat (vyapada), dan kekerasam (vihimsa).
(12).
Tapi mereka yang mengetahui kebenaran sebagai kebenaran, dan ketidakbeneran sebagai ketidakbeneran, mereka yang bersemayam dalam pikiran benar* dapat menyadari intisari sebenarnya.
*). Pikiran benar, pelepasan (nekkhamma), kasih sayang (avyapada), dan kelembutan (avihimsa).
(13).
Seperti hujan menembus rumah beratap tiris, begitulah nafsu dengan mudah merasuk ke dalam pikiran yang tidak terlatih.
(14).
Seperti hujan tidak dapat menembus rumah beratap kuat, begitulah nafsu tak kuasa merasuk ke dalam pikiran yang terlatih.
(15).
Di kehidupan ini ia menderita, di kelahiran berikutnya ia menderita. Pembuat kejahatan menderita di alam kehidupan ini maupun alam kehidupan berikutnya dan merana melihat hasil perbuatan buruknya.
(16).
Di kehidupan ini ia bahagia, begitu pula di kehidupan berikutnya ia bahagia, pembuat kebajikan berbahagia di kehidupan ini maupun kehidupan berikutnya dan merasa berbahagia setelah melihat hasil perbuatan baiknya.
(17).
Di alam ini ia bersedih, di alam berikutnya ia bersedih, pembuat kejahatan bersedih hati di alam kehidupan ini maupun di alam kehidupan berikutnya dan ia bersedih mengingat kejahatan yang telah dilakukan, terlebih setelah jatuh ke dalam penderitaan.
(18).
Di alam ini ia berbahagia, di alam berkutnya ia berbahagia, pembuat kebajikan bergembira di alam kehidupan ini maupun di alam kehidupan berikutnya dan ia bergembira mengingat kebajikan yang telah dilakukan, terlebih setelah mengecap kebahagiaan.
(19).
Orang yang meskipun banyak membaca kitab suci, tapi tidak berbuat sesuai Ajaran, seperti gembala yang menghitung sapi milik orang lain, tidak akan memperoleh manfaat kehidupan suci.
(20).
Orang yang meskipun sedikit membaca kitab suci, tapi berbuat sesuai Ajaran, menyingkirkan nafsu, kebencian, dan kebodohan, memiliki pengetahuan benar, batin yang bebas, dan tidak terikat pada kehidupan sekarang maupun yang akan datang; akan memperoleh kehidupan suci.
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
[ Read More ]
Ini adalah bagian 2 Dhammapada
(21).
Kesadaran itu jalan menuju kekekalan, kelengahan adalah jalan kehancuran. Yang sadar tidak akan mati*, yang lengah meskipun hidup, tapi seakan-akan telah mati.
*). Yang dimaksud dengan tidak akan mati adalah, bila seseorang telah mencapai Nirwana , ia tidak akan terlahir kembali (yang dengan sendirinya tidak akan mengalami kematian lagi).
(22).
Mengerti dengan jelas antara sadar dan tidak sadar, orang bijaksana akan berbahagia dalam kesadaran, dan menikmati jalan kehidupan para ariya*.
*). Ariya, disini artinya orang suci seperti para Buddha dan Arahat. Alam para ariya berarti tigapuluh tujuh faktor pencerahan (Bodhipakkhiyadhamma) dan sembilan keadaan adiduniawi, lihat syair 44 dan 115.
(23).
Mereka yang senantiasa berupaya, ulet dan tekun bermeditasi* , akan mencapai Nibbana, bebas dari segala ikatan, suatu kebahagiaan tertinggi.
*). Meditasi, disini mencakup konsentrasi (samatha) dan perenungan (vipassana).
(24).
Makin bertambahlah kemuliaan orang yang senantiasa hidup penuh semangat, waspada, bertindak bajik dan bijaksana, mampu mengendalikan diri, menempuh kehidupan benar, dan penuh kesadaran.
(25).
Dengan upaya, kesungguhan, disiplin dan pengendalian diri, orang bijaksana membuat pulau* bagi dirinya sendiri yang tidak dapat tenggelam oleh banjir.
*). Orang bijaksana (Arahat), membuat pulau yang melindungi dirinya dari banjir kesenangan indra-indra, pandangan salah, keinginan untuk terlahir kembali (bhava-tanha), dan kebodohan.
(26).
Orang dungu terlena dalam kelengahan, tapi orang bijaksana menjaga kesadarannya sebagai harta yang paling berharga.
(27).
Jangan terlena dalam kelengahan, jangan terjerat oleh kesenangan-kesenangan indra. Orang yang penuh kesadaran dan tekun bermeditasi, akan berlimpah kebahagiaan.
(28).
Ketika orang bijaksana menyingkirkan kelengahan melalui kesadaran, ia (yang telah bebas dari penderitaan ini) akan mencapai menara kebijaksanaan, tatapannya terhadap mereka yang lengah, ibarat pendaki ulung memandang lembah ketidaktahuan yang tidak kelihatan dasarnya dari puncak sebuah gunung*
*). Para Arahat, yang telah bebas dari penderitaan, memandang dengan mata batin yang penuh welas asih pada mereka yang diliputi ketidaktahuan, yang masih terjerat dalam lingkaran kelahiran, dan belum terbebas dari penderitaan.
(29).
Sadar di antara yang lengah, terjaga di antara yang mengantuk. Orang bijaksana maju terus, seperti seekor kuda pacuan berlari meninggalkan kuda tua di belakangnya.
(30).
Dengan kesadarannya, Maghava* menjadi pemimpin para dewa. Kesadarannya senantiasa dipuji, seperti kelengahan akan selalu tercela.
*). Maghava, adalah nama lain dari dewa Sakka, raja para dewa ( Deva, makhluk hidup yang memiliki badan halus).
(31).
Bikhu yang merasa gembira dalam kesadaran, dan memandang kelengahan dengan rasa takut, akan maju terus seperti api yang membakar semua ikatan, besar dan kecil.
(32).
Bikhu yang merasa gembira dalam kesadaran, dan memandang kelengahan dengan rasa takut, tak akan terperosok lagi. Ia telah berada di ambang Nirwana.
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
[ Read More ]
Ini adalah bagian ke 3 Dhammapada
(33).
Pikiran itu sungguh tidak tetap dan berubah-rubah, sukar di kendalikan dan sulit di jaga, orang bijaksana meluruskannya, seperti pembuat panah meluruskan sebatang anak panah.
(34).
Seperti ikan yang dikeluarkan dari air lalu dilemparkan ke tanah, pikiran terus menggelepar-gelepar. (oleh karenanya) kekuasaan nafsu itu mesti di taklukkan.
(35).
Pikiran itu sulit diterka, bergerak cepat, mengembara sesukanya, mengendalikannya adalah baik; pikiran yang terkendali akan membawa kebahagiaan.
(36).
Pikiran itu sulit diawasi, teramat halus, mengembara sesukanya. Lihatlah betapa orang bijaksana menjaganya; pikiran yang terjaga baik akan membawa kebahagiaan.
(37).
Jauh sungguh, pikiran mengembara sendirian, tak berujud, tersembunyi di dalam lubuk hati*. Mereka yang bisa menjinakkannya, niscaya terbebas dari belenggu mara.
*). Gudang kesadaran.
(38).
Ia yang pikirannya selalu goyah, yang tidak mengenal Ajaran Mulia, dan tidak teguh keyakinannya, kebijaksanaannya tak akan pernah sempurna.
(39).
Ia yang pikirannya tidak terkukung (oleh nafsu),
Ia yang tidak ternoda (oleh kebencian),
Ia yang telah mengatasi baik dan buruk;
Bagi mereka yang telah 'bangun' * , tak ada lagi rasa takut.
*). Arahat telah mengatasi baik dan buruk, karena tiap tindakannya tidak lagi berbuah (kammaphala). Disebut telah 'bangun' , karena setelah mencapai kearahatan, dalam diri seseorang akan selalu terdapat keyakinan, semangat, kesadaran, konsentrasi, dan kebijaksanaan.
(40).
Menyadari bahwa tubuh ini (rapuh) seperti tempayan; memperkuat pikiran ini (kokoh) seperti benteng kota; hendaknya ia menumpas Mara dengan senjata kebijaksanaan; hendaknya ia menjaga apa yang telah dicapainya, dan hidup tanpa ikatan lagi.
(41).
Oh, tak lama lagi tubuh ini akan terbujur kaku di tanah; dibiabrkan saja, tanpa kesadaran, seperti batang kayu tak berguna.
(42).
Betapapun (berbahayanya) dua orang saling bermusuhan atau saling membenci, pikiran yang sakit* akan lebih berbahaya.
*). Pikiran yang mendorong ke arah sepuluh perbuatan jahat (Akusala) 1. Membunuh, 2. Mencuri, 3. Berzinah, 4. Berbohong, 5. Memfitnah, 6. Berkata kasar, 7. Omong kosong, 8. Tamak, 9. Mendendam, 10. Berpandangan salah.
(43).
Betapapun (berartinya) seorang ibu, ayah dan sanak keluarga, pikiran yang sehat* lebih berarti bagi kemajuan diri.
*). Pikiran yang mendorong ke arah sepuluh perbuatan baik (Kusala) 1. Murah hati (berdana), 2. Mentaati sila, 3. Bermeditasi, 4. Rendah hati, 5. Berbakti, 6. Menyalurkan pahala kebajikan, 7. Turut bergembira atas kebahagiaan orang lain, 8. Mendengarkan Dharma, 9. Mengajarkan Dharma, 10. Meluruskan pandangan salah.
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
Ini adalah bagian ke 4 Dhammapada
[ Read More ]
(44).
Siapakah yang dapat menaklukkan dunia (diri) ini, beserta alam yama, dewa dan manusia ?
Siapakah yang akan menemukan jalan kebajikan* nan sempurna, seperti seorang ahli (merangkai bunga) memilih bunga ?
*). Jalan kebajikan diartikan sebagai tigapuluh-tujuh faktor kesadaran agung. Menaklukkan diri berarti hakekat diri ini. Alam yama terdiri dari 4 alam kehidupan yang menyedihkan, yaitu: neraka, alam binatang, alam pete (makhluk halus yang menderita), dan alam Asura (raksasa).
(45).
Orang suci-lah yang akan menaklukkan dunia (diri) ini, beserta alam yama, dewa dan manusia.
Orang suci-lah yang akan menemukan jalan kebajikan nan sempurna, seperti seorang ahli (merangkai bunga) memilih bunga.
(46).
Mengetahui bahwasanya tubuh ini seperti buih, dan menyadari sebagai bayangan fatamorgana* , hendaklah orang mematahkan tangkai-tangkai bunga nafsu (mara) , dan melepaskan diri dari incaran raja kematian.
*). Hakekat tubuh ini selalu berubah dengan cepat (Anicca), tidak ada inti yang kekal di dalamnya (Anatta).
(47).
Orang yang mengumpulkan bunga-bunga nafsu, yang pikirannya bercabang-cabang, kematian akan menyeretnya seperti banjir menghanyutkan desa yang tertidur.
(48).
Orang yang mengumpulkan bunga-bunga nafsu, yang pikirannya bercabang-cabang, dan keinginannya tak pernah terpuaskan, maut pun akan menjemputnya.
(49).
Seperti lebah yang tidak merusak kuntum bunga, baik warna maupun harumnya, pergi lagi setelah menghirup madu, begitulah hendaknya orang bijaksana berkelana di tengah masyarakat.
(50).
Ia hendaknya tidak memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain, apa yang diperbuat dan tidak dibuat, melainkan memperhatikan apa yang dibuat dan tidak diperbuat diri sendiri.
(51).
Seperti kuntum bunga yang indah, tapi tiada harum baunya, begitu sia-sianya kata mutiara yang diucapkan oleh orang yang tidak melaksanakannya.
(52).
Seperti kuntum bunga yang indah, harum semerbak, begitulah kata-?kata mutiara yang diucapkan oleh orang yang melaksanakannya, sungguh bermanfaat.
(53).
Seperti rangkaian bunga yang terdiri dari kumpulan bunga-bungaan, begitulah hendaknya kebajikan-kebajikan dilakukan orang sepanjang hidupnya.
(54).
Semerbaknya bunga tak dapat menentang arah angin, begitupun harum kayu cendana, bunga tegara dan melati. Semerbak kebajikan bertiup menentang arah angin; harumnya menyebar ke segala arah.
(55).
Kayu cendana, bunga tegara, teratai dan melati, dari semua jenis wewangian ini, harumnya kebajikan tiada yang dapat menandingi.
(56).
Tidaklah seberapa harumnya bunga tegara atau kayu cendana. Tapi semerbak kebajikan sungguh mempesona, bahkan sampai ke alam dewa.
(57).
Mara tak lagi dapat menemukan jejak mereka yang dipenuhi kebajikan, hidup penuh kesadaran, dan berdasarkan pandangan terang, telah terbebas.
(58,59).
Seperti dari onggokan sampah yang dibuang di pinggir jalan, tumbuh bunga teratai, harum semerbak indah dipandang.
Begitu pula di antara mereka yang tersesat, siswa Buddha bersinar cemerlang, menerangi dunia yang gelap dengan kebijaksanaannya.
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
Ini adalah bagian ke 5 Dhammapada
[ Read More ]
(60).
Malam terasa panjang bagi mereka yang terjaga, jalan terasa jauh bagi mereka yang penat; sungguh panjang samsara* bagi si dungu yang tak mengenal hukum kesunyataan.
*). Samsara, secara harafiah berarti mengembara tiada henti di lautan kehidupan, dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya, dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya.
(61).
Bila seorang pengembara tidak menemukan teman yang lebih baik atau sepadan dengan dirinya, hendaklah ia meneruskan perjalanan seorang diri. Jangan berteman* dengan orang-orang dungu**.
*). Moralitas yang tinggi, perenungan, jalan dan buah kesucian. Tidak satu pun kebajikan itu yang ditemukan dalam diri seorang dungu.
**). Berdasarkan welas asih dan untuk menolong mereka, seseorang boleh saja berhubungan dengan orang dungu, sepanjang batinnya tidak ikut tercemar.
(62).
"Aku memiliki anak, aku memiliki kekayaan", begitulah si dungu resah gelisah, diri sendiri pun bukan kepunyaannya, apalagi anak, maupun kekayaannya.
(63).
Orang dungu yang menyadari kebodohannya, sesungguhnya adalah seorang yang bijaksana. Si dungu yang menganggap dirinya bijaksana, sesungguhnyalah ia yang disebut orang dungu.
(64).
Meskipun sepanjang hidupnya bergaul dengan orang bijaksana, si dungu tidak akan lebih mengerti dhamma, seperti sendok yang tidak dapat menikmati rasa masakan.
(65).
Meskipun hanya sebentar bergaul dengan orang bijaksana, seorang pandai akan segera mengerti dhamma, seperti lidah yang dapat menikmati rasa masakan.
(66).
Si dungu yang rendah budi, berkelana dengan dirinya sendiri sebagai musuh, berbuat kejahatan yang juga membuahkan permusuhan.
(67).
Perbuatan itu tidak baik, jika setelah dilakukan, menimbulkan penyesalan dan membuahkan tangis, di wajah berlinang air mata.
(68).
Perbuatan itu baik, jika setelah dilakukan, tidak menimbulkan penyesalan, tapi membuahkan kegembiraan dan kebahagiaan.
(69).
Si dungu merasakan perbuatan jahatnya semanis madu, sepanjang buahnya belum masak; tapi ketika waktunya tiba, penderitaan pun datang padanya.
(70).
Berbulan-bulan orang dungu hanya makan sebanyak yang dapat diperoleh dengan ujung sebatang rumput kusa,* tapi nilainya tidaklah seperenambelas mereka yang telah mengerti kebenaran.**
*). Secara harafiah baris pertama berarti : berbulan-bulan, dengan ujung rumput kusa, orang dungu mengambil makanannya.
**). Puasa yang berlama-lama tapi tidak menghancurkan nafsu-nafsu tidak ada seperenambelasnya puasa seorang Ariya yang telah menembus empat kebenaran mulia.
(71).
Sungguh, suatu perbuatan jahat tidak akan segera berbuah, seperti halnya susu tidak langsung mengental; namun terjadi pelan-pelan, demikian pula perbuatan jahat itu akan mengikuti si dungu seperti api dalam sekam.
(72).
Sungguh, pengetahuan dan kemasyhuran yang dicapai si dungu membawa kehancuran bagi dirinya sendiri; merusak kecerdasannya, dan menghancurkan pencapaiannya.*
*). Merupakan kebijaksanaannya.
(73).
Si dungu mendambakan kedudukan yang tidak sesuai, menonjol di antara para biksu, berkuasa di wihara-wihara, dan terpandang oleh masyarakat.
(74).
"Semoga para biksu dan orang-orang tahu bahwa akulah yang mengerjakan semua ini. Tiap pekerjaan, besar atau kecil, biarlah orang menunjuk aku." Itulah dambaan si dungu; keinginan dan kesombongannya terus bertambah.
(75).
Sesungguhnyalah, ada jalan menuju dunia, ada pula jalan menuju Nibbana. Setelah mengerti hal ini, o para Biksu, siswa Buddha, jangan menikmati kesenangan duniawi, tapi berusahalah mencapai pembebasan.*
*). Pelepasan atau ketidakterikatan, yaitu: pelepasan jasmaniah dari khalayak ramai; pelepasan batiniah dari nafsu-nafsu dan pelepasan penuh dari segala yang berkondisi, atau Nibbana.
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
*The Image is property of WTL photos
[ Read More ]
Ini adalah bagian ke 6 Dhammapada
(76).
Bila seseorang bertemu dengan orang bijaksana, yang dapat membuka tabir kekeliruan dan menunjukkan hal yang pantas, mereka seperti orang yang menunjukkan harta karun, jalinlah hubungan sahabat dengannya; akan sangat baik dan tidak merugi, mengikuti orang seperti itu.
(77).
Biarlah ia memberi nasehat, petunjuk, dan menjauhkan orang dari perbuatan jahat. Ia adalah berkah bagi orang baik, kerikil bagi yang jahat.
(78).
Jangan bersahabat dengan kawan yang jahat atau pun orang tercela, bersahabatlah dengan kawan yang baik dan orang mulia.
(79).
Ia yang menghayati dhamma akan hidup bahagia. Dengan pikiran tenang orang bijaksana selalu berbahagia di dalam dhamma yang dibabarkan oleh para Ariya.*
*). Ariya, "orang yang telah melenyapkan nafsu-nafsu". Dalam Ajaran Buddha, ia dipakai untuk menunjukkan kemuliaan karakter, dan digunakan baik untuk Buddha maupun Arahat.
(80).
Pembuat saluran (air) mengatur air; ahli (membuat) panah meluruskan panah; tukang kayu membengkokkan kayu; orang bijaksana mengendalikan dirinya.
(81).
Seperti batu solid yang kokoh tak tergoyahkan oleh angin, begitu pula orang bijaksana tidak surut oleh pujian dan hinaan.
(82).
Seperti sebuah danau, dalam, airnya bening dan tenang, begitulah orang bijaksana menjadi tenang setelah menyimak Ajaran.*
*). Kesucian dicirikan dengan batin yang tenang, dengan mencapai kebuddhaan.
(83).
Orang baik melepaskan (keinginan terhadap) segala sesuatu. Orang suci tidak lagi berbicara dengan pikiran penuh nafsu.* terhadap gangguan perasaan sedih dan gembira, orang bijaksana tak memperlihatkan rasa suka maupun duka.
*). Kelima khanda dan sebagainya dapat dilihat pada syair 203.
(84).
Orang bijaksana tidak bertindak curang, baik untuk kepentingan sendiri maupun orang lain. Ia tidak menginginkan anak, kekayaan atau kekuasaan (lalu berbuat jahat). Ia pun tidak menginginkan sukses dengan cara yang salah. Sesungguhnya ia orang yang berbudi, adil, dan bijaksana.
(85).
Sedikit sekali orang yang dapat mencapai pantai seberang. Sesungguhnya, yang lain hanyalah hilir mudik di tepian.*
*). Karena pandangan keliru, kebanyakan orang terlahir kembali di bumi ini.
(86).
Tapi mereka yang dengan sungguh-sungguh mengikuti Ajaran, yang telah sempurna dibabarkan, merekalah yang akan mencapai pantai seberang, menyeberangi lautan nafsu* yang amat sulit ditaklukkan.
*). Kehidupan duniawi yang dikuasai oleh nafsu.
(87.88)
Meninggalkan rumah menuju kehidupan tanpa rumah tangga, orang bijaksana meninggalkan kegelapan* dan berusaha menggapai terang. Ia mencari kebahagiaan dalam keheningan (Nibbana), yang amat sulit dicapai. Menyingkirkan segala kesenangan indera dan rintangan batin,** orang bijaksana berusaha membersihkan dirinya dari kekotoran batin.
*). Kegelapan batin, adalah sepuluh perbuatan buruk. Lihat syair 42 dan 43.
**). Lima rintangan batin yang menghalangi jalan pembebasan, yaitu: nafsu indera, itikad jahat, kemalasan dan kelambanan, kegelisahan, ketakutan dan keragu-raguan.
(89).
Mereka yang sempurna menghayati faktor-faktor pencerahan*, tiada nafsu keinginan, berbahagia dalam kebebasan dari segala ikatan (Nibbana), yang telah bebas dari segala belenggu batin**, yang bersinar cemerlang, sesungguhnya telah mencapai Nibbana di dunia ini juga.
*). Faktor-faktor pencerahan, lihat syair 44.
**) Empat belenggu batin, yaitu: nafsu indera, pandangan salah, kepercayaan pada upacara dan ritual (takhayul), dan konsep keliru tentang "aku".*The Image is property of WTL photos
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
[ Read More ]
Ini adalah bagian ke 7 Dhammapada
(90).
Mereka yang telah sampai pada akhir perjalanan** mereka yang lepas dari penderitaan dan dari segala sesuatu,*** telah terbebas,**** mereka yang telah menghancurkan semua ikatan,***** nafsu telah lenyap tak berbekas.******
*). Arahanta memiliki beberapa pengertian. Ia dapat diterjemahkan sebagai "Yang Mulia", "Yang Tidak Mempunyai Nafsu", atau "Yang tidak berbuat buruk sama sekali". Ia telah melepaskan diri dari kelahiran dan kematian. Setelah kematiannya yang terakhir, ia mencapai Parinibbana. Selama sisa hidupnya itu ia menolong para pencari kebenaran dengan teladan dan nasehat.
**). Seorang Arahat telah bebas dari lingkaran kehidupan atau keberadaan.
***). Segala sesuatu, yaitu lima kelompok khanda, dsb.
****). Kesedihan juga lenyap saat seseorang mencapai tingkat kesucian yang ketiga, Anagami, dengan dipatahkannya belenggu nafsu indera dan itikad buruk (atau kebencian).
*****). Ada empat jenis ikatan (gantha) yaitu, ketamakan, itikad jahat, kepercayaan pada upacara dan ritual dan menganggap prasangka sebagai suatu kebenaran.
******). Syair ini menunjukkan kondisi etis seorang Arahat. Panas adalah sifat jasmani dan batin. Tubuh seorang Arahat panas selama ia masih hidup, tapi batinnya telah terbebas dari panasnya nafsu.
(91).
Orang yang telah sadar berupaya sendiri; mereka tidak lagi terikat pada tempat tinggal. Seperti kawanan angsa yang meninggalkan kolam, begitulah mereka meninggalkan rumah (dan pergi mengembara).*
*). Para Arahat mengembara ke segala penjuru tanpa terhalangi oleh ikatan terhadap tempat tertentu, bebas dari konsep "aku" dan "milikku".
(92).
Mereka yang tidak lagi menabung (karma),* sederhana dalam makanan, Dia yang telah terbebaskan,** Kebebasan yang bercirikan kekosongan dan tanpa bentuk, jejaknya tidak lagi dapat dilacak, seperti burung-burung terbang di angkasa.
*). Ada dua jenis tabungan, yaitu tabungan karma dan tabungan empat kebutuhan hidup (seorang biksu).
**). Nirwana adalah kebebasan. Disebut kekosongan, karena tidak terdapat lagi kebencian, keserakahan dan kebodohan.
(93).
Ia yang telah mematahkan belenggu-belenggu batin, yang tidak lagi terikat pada makanan, dia yang telah terbebaskan, kebebasan bercirikan kekosonga dan tanpa bentuk, jejaknya tidak lagi dapat dilacak, seperti burung-burung terbang di angkasa.
(94).
Ia yang telah menjinakkan indera-inderanya seperti kusir mengendalikan kuda, yang telah bebas dari kesombongan dan belenggu-belenggu batin, disanjung bahkan juga oleh para dewa.
(95).
Seperti tanah ini, begitulah orang suci, tidak pernah mengeluh; ia seperti Indahkhila.* dan seperti kolam tak berlumpur; baginya**. Lingkaran kehidupan telah berakhir.***
*). Indakhila artinya penyangga untuk yang teguh dan tinggi seperti Sakka, atau penyangga utama pintu gerbang sebuah kota. Penjelasan menyatakan bahwa indakhila adalah pilar kokoh yang dibangun baik di dalam maupun di luar kota, sebagai hiasan. Biasanya mereka dibuat sari batu bata atau kayu yang tahan lama dan berbentuk segi delapan. Setengah dari tiang itu terpancang di tanah, dan karenanya teguh dan mantap seperti indakhila.
**). Tadi adalah orang yang tidak terikat pada obyek yang menyenangkan tapi juga tidak membenci obyek yang tidak menyenangkan. Ia tidak melekat pada apa pun. Berada di tengah-tengah delapan kondisi duniawi (untung - rugi, terkenal - tercela, dihina - dipuji, bahagia - menderita), seorang Arahat tetap tenang, membuktikan bahwa ia tidak lagi terbelenggu oleh rasa suka atau tidak suka, sedih atau gembira.
***). Berakhir di lautan samsara, lihat syair 60.
(96).
tenang dalam pikiran, tenang dalam ucapan, tenang dalam perbuatan, ia yang berpengertian benar, telah bebas,* tenang,**. Dan seimbang.
*). Seorang suci bebas dari segala noda batin.
**). Ia tenang karena batinnya benar-benar bersih.
(97).
Orang yang telah bebas dari dogma,* yang telah mengerti hakekat yang tak dilahirkan** (Nibbana), yang telah memutuskan semua ikatan*** dan telah mengakhiri baik dan buruk,**** dan telah menyingkirkan**** semua nafsu keinginan,***** sesungguhnya ia seorang yang termulia.
*). Dogma (Asaddho), secara harafiah berarti tidak percaya. Ia tidak semata-mata mempercayai kata orang, dan mengetahuinya langsung dari pengalaman sendiri.
**). Tak dilahirkan, seorang Arahat telah memutuskan ikatan kelahiran dan kematian.
***). Ikatan hidup dan kelahiran kembali.
****). Baik dan buruk, berarti telah berhenti menimbun (karma).
*****). Nafsu keinginan disingkirkan melalui empat tingkat kesucian. Nafsu-nafsu yang kasar dimusnahkan pada tiga tingkat pertama, yang halus pada tingkat terakhir.
(98).
Baik di desa maupun di hutan, di lembah atau di atas bukit, Di manapun seorang Arahat berdiam, tempat itu sungguh menyenangkan.
(99).
Amat menyenangkan hutan-hutan itu, tempat tiada dapat ditemukan kenikmatan duniawi. Di sana orang yang bebas dari nafsu* akan bergembira, karena mereka tidak lagi mencari kenikmatan indera.
*). Arahat yang telah bebas dari nafsu cenderung memilih tempat terpencil, yang tidak menarik bagi mereka yang masih menikmati keduniawian.
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
[ Read More ]
Ini adalah bagian ke 8 Dhammapada
(100).
Daripada seribu ucapan tak berguna, lebih baik sepatah kalimat bermanfaat, yang memberikan kedamaian bagi pendengarnya.
(101),
Daripada seribu bait syair ang tak berguna, lebih baik sebait syair bermanfaat, yang memberikan kedamaian bagi pendengarnya.
(102).
Daripada melafalkan ratusan bait syair yang tak berarti, hendaknya orang melafal sebait syair, yang memberikan kedamaian bagi pendengarnya.
(103).
Meskipun seseorang dapat mengalahkan ribuan musuh dalam pertempuran, tapi sesungguhnya penakluk terbesar adalah orang yang dapat mengalahkan dirinya sendiri.
(104).
Sesungguhnya, mengalahkan diri sendiri*. Itu lebih baik daripada mengalahkan orang lain.
*). Atta---Buddha menggunakan istilah ini dalam pengertian diri sendiri atau pikiran, bukan dalam pengertian jiwa atau diri yang permanen.
(105).
Bahkan dewa maupun gandhabba*, juga Mara,** dan dan Brahma***. Sekalipun tak dapat menyangkal kemenangan orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri.
*). Gandhabba adalah Makluk yang mendengungkan nyanyian surgawi.
**). Mara di sini artinya sejenis dewa.
***). Brahma adalah makluk yang lebih tinggi tingkatnya dibandingkan dewa-dewa di surga, yang telah mengembangkan jhana dalam meditasinya.
(106).
Meskipun tiap bulannya seseorang mempersembahkan ribuan kurban selama seratus tahun, tapi sesaat saja ia menghormati orang (suci) yang telah sempurna, penghormatan itu, sesungguhnya lebih baik daripada seabad persembahan kurban.
(107).
Meskipun selama seratus tahun seseorang menalakan api (pemujaan) di hutan, tapi sesaat saja ia menghormati orang (suci) yang telah sempurna, penghormatan itu, sesungguhnya lebih baik daripada seabad pemujaan.
(108).
Di dunia ini, persembahan atau dana* apa pun yang diberikan seseorang selama satu tahun untuk memperoleh pahala, tidak berhaga seperempat bagianpun daripada penghormatan kepada orang suci.**
*). Menurut kitab suci, ittham berarti persembahan dalam perayaan keagamaan, hutam diberikan kepada tamu atau pemberian.
(109).
orang yang senantiasa menghargai orang-orang tua, akan memperoleh empat berkah
--umur panjang, kecantikan, kebahagian dan kekuatan.
(110).
Daripada hidup seratus tahun, tapi berkelakuan buruk dan tidak terkendali; sesungguhnya lebih baik hidup sehari, tapi berkelakuan baik dan tekun bermeditasi.
(111).
Daripada hidup seratus tshun, tapi tanpa pengetahuan dan tanpa kendali; sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari orang bijaksana yang tekun bermeditasi.
(112).
Daripada hidup seratus tahun, tapi malas dan tidak bersemangat; seungguhnya lebih baik kehidupan sehari orang yang berjuang dengan penuh semangat.
(113).
Daripada hidup seratus tahun, tapi tidak memahami hakikat kelahiran dan kematian; sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari orang yang dapat memahami hakikat kelahiran dan kematian.
(114).
daripada hidup seratus tahun, tapi tidak memahami keadaan tanpa kematian;* sesungguhnya lebih aik kehidupan sehari orang yang dapat memahami keadaan tanpa kematian.
*). Keadaan tanpa kondisi dari Nibbana, bebas dari kelahiran, tua, dan kematian.
(115).
Daripada hidup seratus tahun, tapi tidak memahami Kebenaran Mulia; sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari orang yang dapat memahami Kebenaran Mulia.
*The Images is property of fake_plastic_earth
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
[ Read More ]
Ini adalah bagian ke 9 Dhammapada
(116).
Bergegaslah berbuat kebajikan dan bersihkan pikiranmu dari kejahatan; karena mereka yang enggan berbuat kebajikan, menjadi senang akan kejahatan.
(117).
Bila seseorang berbuat jahat, hendaklah ia tidak mengulang-ulangnya lagi, dan jangan merasa senang akan perbuatan itu. Penderitaan adalah akibat dari memupuk perbuatan jahat.
(118).
Bila seseorang berbuat kebajikan, hendaklah ia mengulang dan mengulanginya lagi, lalu merasa senang akan perbuatannya itu. Kebahagiaan adalah akibat dari memupuk perbuatan bajik.
(119).
Pembuat kejahatan hanya merasakan kegembiraan, sepanjang buah perbuatannya belum masak; tapi ketika sampai waktunya, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk.
(120).
Pembuat kebajikan hanya merasakan kesedihan, sepanjang buah perbuatannya belum masak; tapi ketika sampai waktunya, ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik.
(121).
Jangan neremehkan kejahatan (meskipun kecil) dengan berkata, "Itu tak akan berakibat apa-apa bagiku." Seperti tempayan akan penuh oleh air yang jatuh menetes, begitu pula si dungu memenuhi dirinya sedikit demi sedikit dengan kejahatan.
(122).
Jangan meremehkan kebajikan (meskipun kecil) dengan berkata, "Itu tak akan berakibat apa-apa bagiku.". Seperti tempayan akan penuh oleh air yang jatuh menetes, begitu pula orang bijaksana memenuhi dirinya sedikit demi sedikit dengan kabajikan.
(123).
Seperti saudagar yang membawa harta berharga dengan sedikit pengawal, menghindari jalan yang berbahaya; atau seperti orang yang menyayangi jiwanya, menghindari racun; begitu pula hendaknya orang bijaksana menghindari perbuatan jahat.
(124).
Bila tidak terdapat luka di tangannya, dapatlah seseorang membawa racun dengan tangan itu. Racun tiidak akan mencelakkan orang yang tidak terluka. Tiada penderitaan bagi orang yang tidak berbuat jahat.*
*). Tidak berbuat jahat disini berarti juga tidak punya msksud (kehendak) jahat.
(125).
Barang siapa berbuat jahat terhadap orang baik, yang suci dan tidak bersalah; kejahatan itu akan berbalik menimpanya, seperti debu yang diterbangkan menentang angin.
(126).
Sebagian orang terlahir* melalui kandungan, pembuat kejahatan terlahir di alam neraka**, orang yang berkelakuan baik masuk surga***, orang suci**** terbebas mencapai Nibbana.
*). Menurut Ajaran Buddha ada empat jenis kelahiran, yaitu melalui telur, melalui kandungan, melalui kelembaban dan kelahiran langsung.
**). Neraka/niraya = tidak ada kebahagiaan. Ada empat jenis niraya, yaitu, alam menyedihkan, alam binatang, alam peta dan alam setan asura. Tapi tak satu pun dari keadaan ini yang kekal. Berdasarkan karma buruknya, seseorang dapat terlahir di salah satu alam menyedihkan itu. Setelah itu, mereka mungkin terlahir di alam yang membahagiakan sesuai karma baik yang mereka lakukan.
***). Surga/suagga = penuh kebahagiaan. Di alam kesenangan indera, alam manusia dan alam surga dipandang sebagai alam bahagia. Namun keduanya juga tidak kekal.
****). Orang suci di sini adalah arahat yang, setelah kematiannya, tidak dilahirkan lagi tetapi mencapai Parinibbana.
(127).
Tidak di langit atau di tengah samudera, tidak pula di dalam gua di gunung-gunung, dapat ditemukan tempat bagi seseorang untuk menyembunyikan* diri dari akibat perbuatan jahatnya.
*). Hukum-hukum alam yang di temukan dan di ajarkan sang Buddha bersifat kausal tidak dapat disuap atau dibujuk dengan doa-doa, tak seorang pun dapat lolos atau bersembunyi dari akibat perbuatan jahatnya. Tidak ada dewa, bahkan tidak juga Buddha, yang dapat mengubah bekerjanya hukum karma.
(128).
Tidak di langit atau di tengah samudera, tidak pula di dalam gua di gunung-gunung, dapat ditemukan tempat bagi sesbeorang untuk menyembunyikan diri dari kematian.
*The Image is property of artfulpurpose
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
[ Read More ]
Ini adalah bagian ke 10 Dhammapada
(129).
Semua orang gemetar menghadapi hukuman, semuanya takut akan kematian. Setelah membandingkan orang lain dengan dirinya, hendaklah seseorang tidak membunuh atau menyebabkan terjadinya pembunuhan.
(130).
Semua orang gemetar menghadapi hukuman, semua orang mencintai kehidupan. Setelah membandingkan orang lain dengan dirinya, hendaklah seseorang tidak membunuh atau menyebabkan terjadinya pembunuhan.
(131).
Barang siapa mencari kebahagiaan dengan menganiaya makhluk lain ( yang juga mendambahkan kebahagiaan), tidak akan memperoleh kebahagiaan setelah kematiannya.
(132).
Barang siapa mencari kebahagiaan tanpa menganiaya makhluk lain (yang juga mendambakan kebahagiaan), akan beroleh kebahagiaan setelah kematiannya.
(133).
Jangan berkata kasar kepada siapa pun, karena mereka akan membalasnya. Sungguh menyakitkan kata-kata pembalasan, yang akan balik menimpa dirimu.
((134).
Bila seperti gong pecah, engkau berdiam diri. Engkau telah mencapai Nibbana*: tak ada lagi dendam dirimu.
*). Orang yang menjalankan latihan seperti dicontohkan dalam syair ini, meskipun belum mencapai Nibbana, seakan-akan telah mencapai Nibbana.
(135).
Seperti gembala* menggiring sapi-sapinya**. Dengan tongkat ke padang rumput***, begitulah umur tua dan kematian menggiring kehidupan setiap makhluk.
*). Gembala melambangkan usia tua dan kematian.
**). Sapi melambangkan kehidupan.
***). Padang rumput melambangkan kematian.
(136).
Ketika si dungu melakukan perbuatan jahat, tidak disadarinya betapa buruk perbuatan itu. Ia tersiksa oleh (akibat) perbuatannya sendiri, seperti orang terbakar api.
(137).
Ia yang menghukum orang yang tidak pstut dihukum dan menista orang tak bersalah, segera akan mengalami salah satu dari sepuluh keadaan berikut:.
(138,139,140).
Ia akan mengalami penderitaan berat, bencana, luka badan, sakit parah atau bahkan hilang ingatan; atau ditindas penguasa, mendapat tuduhan yang berat, kehilangan sanak keluarga atau kekayaannya; atau tempat tinggalnya musnah terbakar api. Diatas semua kehancuran jasmani ini, si dungu akan terlahir kembali di alam neraka.
(141).
(dengan) bertelanjang*, rambut digelung, badan penuh kotoran, berpuasa**, tidur tanpa alas, berdebu, juga tanah, berjongkok diatas tumit, tidaklah dapat menyucikan seseorang yang belum mengatasi keragu-raguannya.***
*). Praktik penyiksaan diri hingga kini masih dijumpai di India. Buddha tidak menganjurkan praktik pertapaan yang hanya berdasarkan ciri eksternal seperti itu. Anggota Sangha hidup membujang dan mengikuti jalan tengah, menghindsri ekstrem penyiksaan diri atau pemanjaan diri.
**). Sekedar puasa tidak berarti mulia. Para Biksu juga berpuasa setiap hsri, tapi hanya dari tengah hari hingga fajar keesokan harinya.
***). Kesederhanaan, kerendahan hati, kebersihan, menjadi ciri-ciri utama seorang Biksu, dilandasi keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha.
(142).
Meski digoda dengan cara apa pun, ia tetap hidup tenang, terkendali, mantap*, suci, tidak menyakiti makhluk lain**, sesungguhnyalah ia seorang Brahmana***, seorang Samana****, seorang Bhikkhu*****.
*). Ada empat tingkat kesucian, yaitu Sotapatti (tujuh kali terlahir di alam samsara), Sakadagami (hanya satu kali terlahir kembali), Anagami (tidak dilshirkan lagi), dan Arahatta.
**). Seorang Brahmana, Samana, atau Bhikkhu tidak lagi menyakiti makhluk lain.
***). Karena telah menyingkirkan dirinya dari semua keburukan.
****). Samana telah membersihkan dirinya dari noda (batin).
*****). Bhikkhu telah menghancurkan nafsu-nafsunya.
(143).
Adakah akan ditemukan orang yang dirinya terkendali oleh rasa malu (terhadap teguran), seperti kuda terlatih yang menghindari cemeti*?
*). Seorang Bhiksu maupun perumah tangga yang memiliki harga diri, selalu berusaha untuk melenyapkan pikiran buruk setiap saat. Syair ini menunjukkan amat jarang ditemukan orang seperti itu.
(144).
Seperti kuda terlatih yang berlari kencang ketika dicambuk, begitu pula orang hendaknya menjadi rajin dan penuh semangat. Dengan keyakinan, kebajikan, upaya dan konsentrasi, terus mencari kebenaran, (sehingga) diberkahi pengetahuan, kebaikan dan kesadaran, ia pun terlepas dari lingkaran penderitaan.
(145).
Sesungguhnyalah, pembuat saluran (air) mengatur jalannya air, ahli pembuat panah meluruskan anak panah, tukang kayu membengkokkan kayu, orang baik mengendalikan dirinya.
*The Image is property of prossernosski
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
Ini adalah bagian ke 11 Dhammapada
[ Read More ]
(146).
Mengapa tertawa, mengapa bergembira, sedangkan dunia ini selalu terbakar*? Engkau yang diselimuti kegelapan, mengapa tak kau cari pelita hati ?
*). Dunia ini sedang terbakar oleh api nafsu, dan diliputi oleh kabut kebodohan yang tebal. Terlahir di dunia ini orang bijaksana akan mencari cahaya kebijaksanaan.
(147).
Perhatikanlah tubuh yang indah ini, penuh penyakit, terdiri dari tulang belulang, lemah dan memerlukan banyak perawatan; keadaannya tidak kekal serta tidak tetap*.
*). Tidak ada yang tetap bagus. San cantik dipandang.
(148).
Tubuh ini benar-benar rapuh, sarang penyakit dan mudah lapuk. Kantung kotoran ini kelak akan hancur! Sesungguhnya, kehidupan ini akan berakhir saat kematian menjelang.
(149).
Seperti labu yang dicampakkan pada musim gugur, begitulah tulang belulang (orang mati) yang warnanya makin pudar. Sungguh tak enak dipandang !
(150).
Tubuh ini terbentuk dari tulang belulang, dibungkus daging dan darah; mengandung benih-benih kelapukan dan kematian, kesombongan dan kepalsuan.
(151).
Kereta kencana yang indah pun akan rusak, seperti tubuh yang menjadi rapuh. Tapi Dhamma* AjaranNya tidak akan lapuk: karena itulah para suci memperbincangkannya**.
*). Dhamma disini berarti sembilan keadaan adi duniawi.
**). Para suci maksudnya para Buddha.
(152).
Orang yang hanya belajar sedikit, menjadi tua seperti sapi jantan. Ototnya bertambah besar, tapi kebijaksanaannya tidak.
(153).
Melalui banyak kelahiran, dalam samsara*, Mengembaralah Aku mencari, tapi tak menemukan pembuat rumah ini. Sungguh menyedihkan kelshiran yang berulang-ulang.
(154).
O, pembuat rumah! Engkau telah terlihat. Kau tak dapat membuat rumah lagi, semua tiang-tiangmu patah, balok utamamu pun hancur. BatinKu menuju keadaan tanpa syarat (Nibbana). Tercapainya kondisi itu merupakan akhir dari nafsu keinginan.
*). Dua syair lagu kemenangan yang pertama, yang pertama diucapkan Buddha setelah pencerahanNya, sesuai penuturan Bhiksu Ananda yang mendengarnya langsung dari tuturan Buddha.
Di sini Buddha menggambarkan pengembaraan masa laluNya dalam lingkaran keberadaan yang mengandung penderitaan ~ kesaksian tentang tumimba lahir. Beliau mengembara dan menderita sebelum dapat menemukan si pembuat rumah, atau tubuh ini. Dalam kelahiranNya yang terakhir, barulah beliau menemukan dengan kebijaksanaan intuitifNya, si pembuat rumah yang sukar ditemukan, bukan di luar melainkan di dalam batinNya sendiri. Pembuat rumah itu adalah Nafsu keinginan atau Keterikatan (tanha), suatu kekuatan mencipta yang laten dalam diri setiap makhluk. Ditemukannya si pembuat rumah yang fimaksud dalam syair ini adalah musnahnya nafsu keinginan, tercapainya Kearahatan.
Tiang-tiang kerangka rumah ini adalah kekotoran batin (kilesa), dan balok utama yang menyangganya adalah kebodohan (avija), akar semua kotoran batin itu. Dipotongnya balok utama (kebodohan) dengan pedang kebijaksanaan, membongkar rumah ini secara keseluruhan. Balok utama dan tiang-tiang kerangka adalah bahan-bahan yang digunakan untuk membangun rumah ini. Dengan hancurnya bahan-bahan itu, berarti si pembuat rumah tidak dapat membuat rumah lagi. Pada saat itu batin mencapai keadaan tak berkondisi, yaitu Nibbana.
(155).
Mereka yang sekali muda tidak menjalani kehidupan suci, (atau) tidak mengumpulkan bekal, akan merana seperti bangau-bangau tua di kolam tanpa ikan.
(156).
Mereka yang selagi muda tidak menjalani kehidupan suci, (atau) tidak mengumpulkan bekal, akan tergeletak seperti busur panah yang tak terpakai lagi, sambil menyesali masa lalunya.
*The Images is property of Andrea Rapisarda (aka rapis60)
Posted by Art of Living
-
-
0
komentar
[ Read More ]
Ini adalah bagian ke 12 Dhammapada
(157).
Bila seseorang menyayangi dirinya sendiri, hendaklah ia menjaga diri dengan baik. Selama ketiga waktu, orang bijaksana hendaknya selalu waspada.
(158).
Hendaklah orang mengembangkan dirinya terlebih dulu dalam hal-hal yang baik, kemudian barulah melatih orang lain. Orang bijaksana yang melakukan hal itu tidak akan dicela.
(159).
Sebagaimana seseorang memberikan nasehat kepada orang lain, begitu pula hendaknya sang pemberi nasehat sendiri melakukan nasehat itu. Setelah mengendalikan dirinya dengan baik, hendaklsh ia melatih orang lain. Sesungguhnya, amat sulit mengendalikan diri sendiri.
(160).
Diri sendirilah pelindung diri ini: (karena) kepada siapa lagi engkau akan berlindung ? Dengan mengendalikan diri sendiri, seseorang akan memperoleh perlindungan yang sukar didapat.
(161).
Kejahatan dilakukan oleh diri sendiri, timbul dari diri sendiri dan disebabkan oleh diri sendiri. Kejahatan itu akan menggilas si dungu, seperti intan memecahkan permata yang keras.
(162).
Orang yang berkelakuan amat buruk, seperti Maluva, tumbuhan merambat yang membelit pohon sala, demikianlah seseorang ysng menghsrapkan lawannya jatuh, namun dirinya sendiri yang akan jatuh menderita.
(163).
Mudah sekali (untuk) melakukan hal-hal buruk dan tidak bermanfaat bagi diri sendiri. Tapi sungguh sulit melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat.
(164).
Orang yang tidak sadar (karena pandangan kelirunya) mencemooh Ajaran dari Yang Mulia, Suci dan Arif Bijaksana; akibatnya, seperti rumput kashta yang berbuah, hanya untuk kehancuran dirinya sendiri.
(165).
Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci itu tergantung pada diri sendiri, tak seorang pun dapat mensucikan orang lainnya.
Para Buddha hanya memberi petunjuk jalan, kitalah yang harus menjalaninya sendiri.
(166).
Jangan melalaikan kepentingan diri sendiri demi kepentingan orang lain*. perhatikanlah kepentingan dirimu, dan berpeganganlah pada tujuanmu sendiri.
*). Disini "kepentingan" menunjukkan tujuan akhir seorang Buddhis, yaitu Nibbana. Kesucian sendiri tak boleh dikorbankan demi krpentingan lain.
Jangan salah menerapkan syair ini unyuk konsep "bekerja tanpa mementingkan diri sendiri", karena sikap tanpa pamrih justru dipuji Oleh Buddha.
*The Image is property of tsechel
















